Saat ini Batak dan Dayak telah diakui sebagai salah satu suku yang ada di Indonesia. Padahal dalam kenyataannya yang dikenal sebagai suku Batak dan Dayak tersebut sesungguhnya terdiri dari aneka suku. Sub-sub suku tersebut ada yang lebih dekat kekerabatannya dengan suku lain dibandingkan subsub suku Batak dan Dayak. Bagaimana terminologi suku ini menurut orang Melayu, suku yang dekat secara geografis dengan orang Batak/ Dayak?

Wikipedia Indonesia menyebutkan Suku Dayak adalah federasi/kumpulan dari berbagai subetnis Austronesia yang dianggap sebagai pendatang awal pulau Kalimantan (Sabah, Serawak, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan). Suku bangsa Dayak terbagi atas 6 rumpun, yakni:
  1. Klemantan/Kalimantan
  2. Iban
  3. Apokayan
  4. Kenyah dan Bahau
  5. Ot-Danum Ngaju
  6. Punan
Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa Batak adalah terma kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim di Tapanuli dan Sumatera Timur, di Sumatera Utara. Sukubangsa suku bangsa tersebut adalah:

  1. Batak Toba
  2. Karo
  3. Pakpak
  4. Simalungun
  5. Angkola
  6. Mandailing
Buku ANEKA RAGAM BUDAYA BATAK [Seri Dolok Pusuk Buhit-10] terbitan YAYASAN BINABUDAYA NUSANTARA TAOTOBA NUSABUDAYA, 2000 hal 31 menyebutkan Batak terdiri dari 11 subetnis, yakni:
  1. Batak Toba/Tapanuli
  2. Batak Simalungun
  3. Batak Karo
  4. Batak Mandailing
  5. Batak Pakpak
  6. Batak Pasisir
  7. Batak Angkola
  8. Batak Padang Lawas
  9. Batak Melayu
  10. Batak Nias
  11. Batak Alas Gayo


Munculnya nama Batak dan Dayak dalam khazanah perbendaharaan bahasa di Indonesia mengemuka pada zaman kolonial Belanda. Dalam kontrak yang dibuat dengan para sultan yang berkuasa, Belanda mengakui kedudukan sultan sebagai kepala penduduk yang beragama Islam, sebaliknya penduduk non-Islam langsung di bawah administrasi sipil Belanda. Pada mulanya, golongan ini hanyalah orang Timur Asing dan Eropa, namun lambat laun Belanda berhasil memasukkan kelompok penduduk asli. Untuk itulah istilah Batak dan Dayak perlu dimunculkan untuk membedakannya dengan penduduk kesultanan yang digolongkan orang Melayu.

Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa istilah Dayak pertama kali digunakan pada perjanjian antara Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826. Pada mulanya digunakan untuk menggantikan Biaju Besar (sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (sungai Kapuas Murung), namun kemudian digunakan secara kolektif untuk menyebut penduduk asli setempat. Kata Biaju sendiri berasal dari kata bi yang berarti dari dan aju yang berarti hulu. Kata Daya menurut Lindblad berasal dari bahasa Kenyah yang berarti hulu. Kata Daya oleh penduduk Sambas dan Pontianak digunakan untuk penduduk rumpun Bidayuh yang kemudian disebut Dayak Darat yang dibedakan dengan rumpun Iban yang kemudian disebut Dayak Laut.

Tidak seperti kata Dayak yang asal usulnya secara etimologis masih mudah ditelusuri, kata Batak tidak diketahui kapan dan siapa yang memulai menggunakan untuk etnis-etnis di Sumatera Utara. RW Liddle dalam kutipan Wikipedia Indonesia menyebutkan bahwa sebelum abad 20 di Sumatera Utara tidak terdapat kelompok etnis sebagai kesatuan yang koheren. Menurut J. Pardede, istilah Batak merupakan istilah yang diciptakan oleh pihak asing. Sebaliknya Siti Omas Manurung mengatakan bahwa sebelum kedatangan Belanda, orang Karo dan Simalungun mengakui dirinya sebagai Batak. 

Dalam khazanah Melayu, Batak adalah satu dari 3 komunitas tidak lazim(terasing) yang hidup di sekitar lingkungan Melayu. Istilah Batak tidak diperuntukkan untuk menyebut kesatuan etnis tertentu, oleh karenanya di daerah Filipina misalnya wilayah kesultanan Sulu juga ada disebut orang Batak. Ke-3 komunitas tidak lazim tersebut adalah:
  1. Orang Laut. Orang Laut adalah yang tinggal di perahu atau mendirikan perkampungan temporer pada pesisir pulau yang belum dihuni orang Melayu. Orang Rakit adalah sebutan untuk orang laut di pesisir timur Sumatera yang pada masa lalu mungkin hidup di atas rakit. Kepercayaan mereka ada 3, kepercayaan asli Austronesia, yakni menyembah matahari. Penganut Budha adalah umumnya kepercayaan orang Laut yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim kemaharajaan Melayu pra-Islam, tersebar di Laut Andaman, Johor dan Lingga/Indragiri. Agama ini menyebabkan mereka mudah bergaul dan nikah kawin dengan orang Cina sehingga orang Akit di Bagan misalnya disebut orang Cina Hitam. Penganut agama Islam pada orang Laut adalah komunitas orang laut terakhir yang terbentuk yang merupakan sisa-sisa lasykar maritim Riau Lingga yang tidak tunduk ke Belanda dan hidup dari melanun.
  2. Orang Hutan. Orang Hutan adalah komunitas yang hidup di hutan atau anak-anak sungai di sekitar pemukiman orang Melayu. Selain disebut orang hutan, pada beberapa tempat mereka memiliki nama sendiri, misalnya orang Delik, Sakai, Dayun, Bonai, Talang Mamak, Petalangan. Pada dasarnya orang Hutan adalah penganut agama Budha namun mantra-mantranya telah dimasuki unsur Islam misalnya diawali dengan kata Bismillah. Orang Hutan membedakan kepercayaannya dengan orang Melayu pada kenabian, di mana Nabi orang Melayu adalah Muhammad dan Nabi orang Hutan adalah Adam.
  3. Orang Gunung/Batak/Bukit. Orang Gunung atau pun orang batak disebutkan untuk orang-orang yang tinggal di perbukitan atau pun gunung--gunung. Karena keadaan gunung/bukit di pulau kecil-kecil umumnya berbatu-batu maka orang ini pun sering disebut orang Batu, Dari segi kepercayaan ada kelompok Batak yang penganut agama asli Austronesia, yakni menjalankan tradisi pengayauan.Kepala korban yang dipenggal mereka gunakan untuk sarana komunikasi dengan roh leluhur. Sebagian lagi adalah penganut ajaran Budha Tantraisme /Bhairawa yang melakukan kanibalisme. Pada malam hari mereka mempersembahkan tumpukan mayat manusia yang dibakar kepada para dewa. Untuk pemujaan besar, korban manusia hidup ditelentangkan. Seorang pendeta menusukkan pisau besar ke perut korban dan mengirisnya ke arah tulang rusuk bagian bawah. Jantung diambil, dan darah diperas ke dalam gelas tengkorak dan diminum sampai habis. Pendeta yang kemasukan menari-nari dan bersuara histeris. Selanjutnya diadakan ritual persetubuhan.
Dalam wawasan orang Melayu kampung (Melayu yang tidak pernah merantau), pandangan mereka untuk kedua kelompok komunitas tersebut adalah :

  1. Orang Hutan (dihaluskan Anak Dalam) dan orang Laut (dihaluskan orang Pulau) adalah komunitas yang sangat pemalu dan suka warna merah.
  2. Orang Batu adalah orang biadab, tidak tahu malu dan tidak bisa berbasa basi.
Dari negatifnya konotasi Batak tersebut, dapat kita maklumi kalau BELANDA pada ZAMAN DAHULU sengaja menggunakan kata Batak pada etnis Toba dan sekitarnya untuk membedakannya dengan masyarakat Melayu sehingga diharapkan garis pemisahan antara Melayu dan Batak tajam. Anehnya, referensi kata Batak tadi seakan-akan berakar dari etnis yang sekarang kita sebut Batak itu sendiri, terutama dari Suku Toba. Hanya, orang-orang non-Toba yang mulai banyak menolak pem-batak-an mereka.
 


Comments

Batak Son
06/26/2012 10:22

Literatur sampah...klo gk tau gk usah nulis broo...
Sembarangan kowe....
Orang batu tidak tau malu..?? BAPAK ama Mama mu yg gak tau malau mka'a kau lahir kedunia ini...

Reply
06/30/2012 20:21

Satu hal yang aneh, dalam tradisi Batak(Toba) dikatakan kalau Si Raja Batak adalah nenek moyang dari semua bangsa Batak(Karo, Toba, Mandailing, Angkola, dan Simalungun) yang dalam studi etnisitas dan sejarah kebatakan diyakini kemunculannya sekitar abad ke-13 di Pusuk Buhit, Samosir yang hidup bersamaan dengan kerajaan Aru(Haru/Karo), Pane dan Padang Lawas(identik dengan Mandailing), Pagaruyung(Minang), Srieijaya(Palembang), Majapahit, dll. Maka dari hal ini, para ahli berpendapat kalau Si Raja Batak ini merupakan aktifis atau bahkan penentang dari kerajaan diatas sehingga harus mengungsi ke pedalaman Samosir dan disinilah diyakini munculnya Bangsa Batak, dan ingat saat itu merga/merga belum muncul, karena setidaknya pada generasi ke-2 dari Si Raja Batak-lah baru muncul marga/merga berarti sekitar abad ke-14, anehnya Munte dari Aji Nembah(Taneh Karo) di Vlandern(Belgia) di tahun 1072 sudah muncul ( http://www.geocities.com/-ascricus/genealogy/surnames.htm | http://www.genealogy.munthe.net/ | http://www.sverre.munthe.net ), dan di tahun 1428 sudah sampai di Raja Simbolon yang dikemudian hari menjadi Saragih/Saragih Munte(simalungun) dan Saragi (Batak/Toba). Munte ini adalah salah satu contoh, dan masih banyak contoh kejanggalan lainnya tentang kebenaran Si Raja Batak(Toba) adalah sumber Batak...Jadi pertanyaanya:

1. Apakan anak bisa lahir lebih dulu dari pada ayahnya?

2. Kalau Munte yang dari Aji Nembah (Taneh Karo/Karolanden) sudah sampai di Eropa di tahun 1072 M, apakah ia kembali ke dalam rahim cucu menantu Si Raja Batak dan kemudian dilahirkan lagi menjadi Munte dan Saragih/Saragi?

3. Kalau Aru, Nagur, Pane, dan Padang Lawas sudah berjaya saat Si Raja Batak muncul, mungkinkah rakyat dari negeri itu semuanya adalah keturunannya. Tidak mungkinkan sebuah kerajaan dapat berjaya jika peradaban, SDM, dll masih minim.?

4. Aneh bukan?

Hehehehe....
Mungkin lebih masuk akal kalau Karo, Simalungun, atau Mandailing adalah sumber(nenek) moyang dari bangsa Batak(Toba) bukan begitu, karena jika ditinjau dari dimensi ruang dan waktu ini sangat masuk akal. ;-)

Reply
sejarawan
06/29/2012 06:34

Jika anda mengatakan tulisan ini sampah, coba anda sebutkan bukti bahwa sebelum kedatangan Belanda ke Barus,Simalungun dan Mandailing, apakah ada penyebutan "Negeri Batak" dikhususkan untuk daerah antara Padang dan Aceh dalam literatur Nusantara?

Reply
sorkam boy
06/29/2012 06:41

ya, ada tulisan blog bahwa BATAK = Barus Tanah Kristen diciptakan oleh misionaris Belanda.

Reply
donmosional
06/29/2012 06:52

dalam pelajaran sekolah pun sudah ada negeri-negeri Barus, Aru, Barumun, Pane, Nagur, Tanah Jawa tetapi tidak ada Negeri Batak.

Reply
06/30/2012 20:18

Satu hal yang aneh, dalam tradisi Batak(Toba) dikatakan kalau Si Raja Batak adalah nenek moyang dari semua bangsa Batak(Karo, Toba, Mandailing, Angkola, dan Simalungun) yang dalam studi etnisitas dan sejarah kebatakan diyakini kemunculannya sekitar abad ke-13 di Pusuk Buhit, Samosir yang hidup bersamaan dengan kerajaan Aru(Haru/Karo), Pane dan Padang Lawas(identik dengan Mandailing), Pagaruyung(Minang), Srieijaya(Palembang), Majapahit, dll. Maka dari hal ini, para ahli berpendapat kalau Si Raja Batak ini merupakan aktifis atau bahkan penentang dari kerajaan diatas sehingga harus mengungsi ke pedalaman Samosir dan disinilah diyakini munculnya Bangsa Batak, dan ingat saat itu merga/merga belum muncul, karena setidaknya pada generasi ke-2 dari Si Raja Batak-lah baru muncul marga/merga berarti sekitar abad ke-14, anehnya Munte dari Aji Nembah(Taneh Karo) di Vlandern(Belgia) di tahun 1072 sudah muncul ( http://www.geocities.com/-ascricus/genealogy/surnames.htm | http://www.genealogy.munthe.net/ | http://www.sverre.munthe.net ), dan di tahun 1428 sudah sampai di Raja Simbolon yang dikemudian hari menjadi Saragih/Saragih Munte(simalungun) dan Saragi (Batak/Toba). Munte ini adalah salah satu contoh, dan masih banyak contoh kejanggalan lainnya tentang kebenaran Si Raja Batak(Toba) adalah sumber Batak...Jadi pertanyaanya:

1. Apakan anak bisa lahir lebih dulu dari pada ayahnya?

2. Kalau Munte yang dari Aji Nembah (Taneh Karo/Karolanden) sudah sampai di Eropa di tahun 1072 M, apakah ia kembali ke dalam rahim cucu menantu Si Raja Batak dan kemudian dilahirkan lagi menjadi Munte dan Saragih/Saragi?

3. Kalau Aru, Nagur, Pane, dan Padang Lawas sudah berjaya saat Si Raja Batak muncul, mungkinkah rakyat dari negeri itu semuanya adalah keturunannya. Tidak mungkinkan sebuah kerajaan dapat berjaya jika peradaban, SDM, dll masih minim.?

4. Aneh bukan?

Hehehehe....
Mungkin lebih masuk akal kalau Karo, Simalungun, atau Mandailing adalah sumber(nenek) moyang dari bangsa Batak(Toba) bukan begitu, karena jika ditinjau dari dimensi ruang dan waktu ini sangat masuk akal. ;-)

Reply



Leave a Reply